Showing posts with label YA. Show all posts
Showing posts with label YA. Show all posts

Wednesday, November 12, 2014

Sweet Home by Adeliany Azfar





Judul                     : Sweet Home
Pengarang           : Adeliany Azfar
Penerbit               : Haru
Tahun                   : 2014
ISBN                     : 9786027742413
Halaman              : 360


Sinopsis

Bagi Emily Cox, naik ke grade 11 sama dengan gejolak emosi yang tiada habisnya.

Matthew Cooper, pacar sekaligus temannya sejak kecil, memutuskan hubungan mereka. Sementara Marion-Mary-Scott, sahabat dan tetangga sebelah rumahnya, terpaksa pindah dari Sweet Home ke kota lain setelah ibunya menikah lagi.

Saat Emily menyangka kehidupannya tidak bisa lebih buruk dari itu, puluhan pesawat kertas berisi curahan hati rahasia yang ia terbangkan ke teras rumah sebelah, yang semestinya ditujukan kepada Mary, hilang tiba-tiba!

Lalu muncullah Tyler Adams, tetangga baru yang dengan seenaknya selalu merecokinya dan membuat hari-harinya semakin menyebalkan.

Apa sih sebenarnya tujuan cowok itu?


Review

Naik ke grade 11, hidup Emily Cox terasa benar-benar tidak menyenangkan. Mary, sahabat tempatnya berbagi perasaan sejak kecil, harus pindah ke kota lain mengikuti ibunya yang menikah kembali. Dan pacarnya, Matt, (yang juga telah dikenalnya sejak kecil) ikut memutuskan hubungan dengan Emily. Alasannya, Emily tidak cukup feminin untuk Matt.

Dan sesuai kebiasaan saat berkomunikasi dengan Mary yang dulunya adalah tetangga Emily, Emily menuliskan permasalahan-permasalahannya dalam sebuah pesawat kertas dan kemudian menerbangkannya ke kamar Mary yang berhadapan dengan kamar Emily.

Yang tidak Emily ketahui adalah bahwa rumah itu baru saja dihuni oleh keluarga Adams. Saat hendak mengambil kembali pesawat-pesawat kertas itu, Emily tepergok oleh Tyler yang sekarang menghuni kamar Mary. Tyler menolak menyerahkan kertas-kertas tersebut kepada Emily, yang membuat Emily sangat kesal.

Situasi di sekolah juga sama tidak menyenangkannya bagi Emily. Ia harus menghadapi Matt yang sepertinya sedang pendekatan dengan cewek lain, dan juga bahwa Tyler satu sekolah dengannya. Tetapi yang anehnya, walaupun Tyler cukup jahil kepada Emily, ia juga siap membela kepentingan Emily.

Novel Sweet Home ini merupakan salah satu novel pemenang 100 Days of Romance 2013 yang di adakan oleh penerbit Haru. Novel pemenang lainnya juga pernah saya review yaitu PeopleLike Us. Seperti novel People Like Us, setting cerita novel ini juga tidak berlokasi di Indonesia, melainkan di Calabasas, sebuah kota di negara bagian California, Amerika.

Hal yang pertama menarik perhatian saya pada buku ini adalah covernya. Sangat manis dan sesuai dengan deskripsi yang ada didalam buku. Memang kalau mengenai cover buku, keahlian Penerbit Haru sudah tidak diragukan lagi. Semua cover bukunya memikat, sehingga mengundang selera untuk membuka dompet untuk membeli :)

Isi cerita juga khas dengan segala permasalahan remaja. Sahabat yang pergi jauh, kekasih yang hilang, munculnya seorang teman yang memberi angin baru dalam kehidupan galau tokoh kita, Emily.

Cerita ditulis dengan manis tanpa drama yang terlalu berlebihan. Walaupun ada juga beberapa hal yang rasanya kurang mengena bagi saya. Seperti sifat Tyler yang menurut saya terlalu kekanak-kanakkan. Rasanya sifat Tyler lebih terasa seperti murid SD daripada murid high school. Dan juga sifat ingin tahu dan suka ikut campurnya itu kadang-kadang bikin bete juga bacanya.

Persahabatan Mary dan Emily yang walaupun sudah terpisah jarak masih tetap terjalin.  Segala sesuatu percakapan antara Mary dan Emily dibuat seperti sebuah chat/sms. Unik memang, tetapi kadang pengen juga membaca percakapan real antara Mary dan Emily. Membaca deskripsi gerak tubuh mereka saat sedang mengobrol. Dan karena chat mereka cukup pendek, hubungan persahabatan antara Mary dan Emily yang seharusnya sangat kental ini agak kurang terasa.

Secara keseluruhan novel ini cukup enak dibaca dengan konflik remaja yang ringan dan tidak berbelit-belit atau keterlaluan lebay-nya.

Saturday, October 19, 2013

The House of Hades by Rick Riordan



Rating : 4 of 5 stars

Setelah dibuat khawatir akan nasib Percy dan Annabeth di akhir Mark Of Athena akhirnya kita bisa tahu juga kelanjutan nasib mereka.

Seperti biasa, buku ini dikisahkan dari berbagai sudut pandang. Yaitu sudut pandang para heroes yang menjalani quest untuk menyelamatkan dunia. Dan bukan hanya sebagian heroes saja, tetapi semua heroes yang terlibat.

Buku ini dimulai dari sudut pandang Hazel beberapa minggu setelah Percy dan Annabeth jatuh ke Tartarus. Tujuan para hero ini adalah Yunani untuk menyelamatkan Percy dan Annabeth dan juga menutup pintu kematian yang terhubung ke Tartarus.

Tapi perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 2 hari ini malah berlarut-larut sampai dua minggu. Banyaknya monster yang dikirim oleh Gaia dan anak buahnya membuat para hero kita kewalahan. Sementara itu Hazel mendapatkan ramalan dari Hecate bahwa untuk bisa membuat misinya berhasil ia harus bisa mengontrol kabut yang menyembunyikan dunia lain dari dunia manusia.

Sementara Percy dan Annabeth yang jatuh ke Tartarus pun tidak mengalami saat-saat yang mudah. Semua yang ada di tartarus baik udara, air, tanah yang diinjak menguarkan kematian. Berkat kecerdikan Annabeth-lah maka kedua sejoli ini berhasil mengatasi tantangan yang ada di Tartarus.

Tapi ketika Tartarus sendiri yang langsung turun tangan menghadang mereka di depan pintu kematian, mampukah Percy dan Annabeth selamat dan menyelesaikan misi mereka?


Di buku ini Rick Riordan banyak memberikan kejutan kepada kita.

Percy yang lebih banyak disanjung oleh para penggemar seri ini memperlihatkan kelemahan dan kesalahan-kesalahannya. Beberapa peristiwa di seri Olympus kembali diungkit sehingga kita mesti menarik kembali semua ingatan akan peristiwa-peristiwa yang terjadi di seri Percy Jackson & the Olympians. Walaupun begitu, kelemahan Percy ini mengingatkan kita bahwa walaupun mereka keturunan dewa, mereka tetap juga manusia. Ada ketakutan-ketakutan yang mesti di atasi dan kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki.

Tokoh yang paling pesat perkembangannya baik secara fisik maupun sifat adalah Frank. Di buku ini Frank membuktikan bahwa ia memang pantas menjadi anak dewa perang. Mars atau Ares, silahkan pilih. Sikapnya menjadi jauh lebih tenang dan dewasa walaupun masih tetap pemalu. Dan kita tidak perlu deg-degann lagi memikirkan apakah Hazel akan memilih Frank atau Leo :)

Ngomong-ngomong soal Leo, setelah dibuat bimbang oleh Nemesis ia akhirnya menemukan pelabuhannya. Di sebuah pulau terpencil yang dilupakan oleh para dewa dan tidak ada kemungkinan  bisa kembali untuk yang kedua kalinya. Yang pengen tahu silakan baca kisah Percy Jackson, karena Percy sendiri pernah sampai di pulau ini bahkan disaat-saat ketidakpastian akan perasaan Annabeth kepadanya.

Sedangkan Nico... saya lumayan speechless juga dengan arah yang dituju Rick Riordan ini. Saya ga tau mau mengatakan apa. Yang pasti Nico sudah ada dihati saya sejak Riordan pertama kali memperkenalkannya.

Jason... yah, Jason udah mulai lumayan sih.

Piper? Siapa itu Piper???

Monday, September 30, 2013

Good Memories by Lia Indra Andriana




 Judul                     : Good Memories
Pengarang           : Lia Indra Andriana
Penerbit               : Haru
Tahun                   : 2013
ISBN                     : 9786027742222
Halaman              : 336
Rating                  : 4 of 5 stars
 


Biasanya bersekolah ke luar negeri adalah impian semua orang. Tapi beda bagi Maya. Walaupun dulu ia emang niat banget mau sekolah ke luar negeri, tetapi sejak pacaran niatnya tersebut hilang. Mana enak kuliah di Seoul sementara dari si jantung hati jauh di kampung halaman sana? Apalagi si pacar juga dengan gamblang bilangin kalo dia ga suka pacaran jarak jauh. Mati-matian Maya berusaha mempertahankan hubungannya dengan Alva, si kekasih.

Ketika kemudian Maya tinggal kelas, dengan bahagia ia mengirimkan hasil ujiannya pulang. Kalau Papa melihat hasil ujiannya ini, ia pasti di panggil pulang. Tapi ternyata Papa tetap ngotot. Maya tidak boleh pulang dari Korea sebelum menyelesaikan kuliah S1-nya.

Gambar ambil disini
Di kelas barunya Maya bertemu dengan Luc, si cowok Prancis yang ganteng. Dari awal Luc sudah tertarik kepada Maya. Sikap Maya yang terang-terangan membuat ia terpikat. Walaupun tahu Maya sudah punya pacar, Luc tetap tidak bisa menghilangkan perasaan sukanya. Apalagi ketika ia merasa kalau Alva sama sekali tidak menghargai Maya.

Yang paling saya sukai dari buku ini adalah konsep membuat kenangan indahnya. Mengingatkan saya akan penyesalan karena tidak mengabadikan beberapa kenangan yang mungkin tidak terulang kembali. Sekarang hanya ada dalam ingatan, kadang samar tapi kadang terkilas tajam.

Selain itu yang menarik adalah tokoh Maya. Cewek yang menurut saya sedikit keras kepada dan ada unsur-unsur manja dan naif ini berhasil membuat saya ngakak. Apalagi saat tragedi kartu kredit yang diblokir itu. Serius, ga nyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Maya.

Gambar ambil disini
Sedangkan Luc pas sekali dengan image saya sebagai orang Prancis. Tampan, romantis, sedikit flamboyan dan sangat tidak malu-malu mengungkapkan affairnya dengan make-up. Kegigihannya dalam mendekati Maya juga patut diacungi jempol walau kadang rasanya Luc terlalu sabar dalam menghadapi Maya.

Biasanya dalam satu buku itu ada tokoh yang kurang disukai atau dibenci. Dan predikat itu dengan sukses disandang oleh Alva. Saya sedikit tidak setuju dibagian akhir dimana Maya menggambarkan bahwa dibalik sifat menjengkelkannya, Alva sebenarnya adalah orang yang baik.

Menurut saya, saat seseorang memutuskan berhubungan dengan orang lain untuk menyelamatkan keluarganya, setidak ia mempunyai sedikit harga diri untuk berbuat yang terbaik bagi hubungan tersebut.

Plot cerita sebenarnya biasa saja, tapi karena karakter Maya dan Luc yang berkesan ditambah dukungan karakter-karakter teman-teman di kelas bahasa membuat cerita ini menarik untuk diikuti. Jalan cerita lumayan cepat walaupun ada bagian yang sedikit bikin pikiran saya melayang  seperti saat Maya yang gigih nyari kerja sampingan.

Oh ya, bagian yang paling menarik itu adalah Kwanghan University yang terasa sangat real. Apalagi dilengkapi dengan denah universitas dan keterangan gedung-gedungnya serta gambar dan keterangan mengenai iHouse dan dapur iHouse. Kedua tempat ini merupakan lokasi utama dari cerita. Selain itu aura Korea-nya terasa sangat real, tidak seperti tempelan pada beberapa novel Indonesia bersetting Korea yang pernah saya baca.

Gambar ambil disini
Ini buku Lia Indra Andriani yang pertama yang saya baca. Dan setelah cek di goodreads ternyata buku yang diterbitkannya telah lumayan banyak. Jadi pengen membaca buku-buku karyanya yang lain.



Wednesday, September 11, 2013

Wandeuk by Kim Rye-ryeong


Judul                     : Wandeuk
Pengarang           : Kim Rye-ryeong
Penerbit               : Bentang Belia
Tahun                   : 2012
ISBN                     : 9786029397246
Halaman              : 254


Sebenarnya Wandeuk tidak suka berkelahi. Malah ia tidak ingin diperhatikan oleh banyak orang. Tapi dengan postur tubuh besar dan sikap diam yang sering dianggap mengancam, Wandeuk malah dilabeli sebagai preman di lingkungan dan juga di sekolahnya. Dan karena sifatnya yang juga tidak suka diejek, kaki dan tangannya pun akhirnya sering melayang menghajar orang-orang yang mengejeknya.

Tapi yang paling membuatnya jengkel itu adalah Pak Guru Ddongju, wali kelasnya. Hampir setiap hari pak guru memanggilnya untuk menjawab pertanyaan atau hanya untuk mengolok-oloknya. Belum lagi ia memasukkan Wandeuk kedalam daftar penerima bantuan untuk orang miskin dan kemudian meminta jatah berasnya. Yang paling parah adalah saat pak guru pindah rumah ke sebelah rumah Wandeuk. Tidak di rumah, tidak di sekolah pak guru berteriak-teriak memanggil namanya.

Tidak heran Wandeuk jadi sering mendatangi gereja hanya untuk berdoa agar Tuhan segera mencabut nyawa pak guru Ddongju.

Dan yang paling parah, pak guru meminta Wandeuk menemui ibunya, perempuan yang meninggalkan Wandeuk sejak ia masih bayi. Ibu? Sejak kapan Wandeuk punya ibu?

Ini pertamakalinya saya membaca buku hasil karya penulis Korea. Biasanya cuma nonton film atau baca komiknya saja. Dan dari buku ini saya juga bisa merasakan suasana yang biasanya saya dapatkan dari film dan komik tersebut. Jadi tidak susah bagi saya untuk membayangkan adegan-adegan yang berlangsung di buku ini.

Buku ini secara keseluruhan bercerita mengenai kehidupan sehari-hari Wandeuk. Tidak ada percintaan yang menguras air mata atau drama yang berlebihan. Hanya menceritakan hal-hal yang dilalui Wandeuk setiap harinya.

Diawal buku kita dapat merasakan kesendirian Wandeuk yang tidak memiliki teman di sekolah dan selalu pulang ke rumah yang kosong karena ayahnya yang sibuk bekerja sebagai penari kabaret jalanan. Ada sedikit rasa malu di hati Wandeuk atas pekerjaan ayahnya ini, apalagi dengan postur tubuh ayahnya yang pendek sehingga sering ditertawakan orang lain.

Hubungannya dengan ayahnya juga tidak terlalu dekat. Entah mendapat ide darimana ayah Wandeuk ingin Wandeuk menjadi seorang novelis sementara hasil tulisan Wandeuk sering menjadi ejekan pak guru Ddongju. Menjadi penulis bukanlah cita-cita Wandeuk, tapi dengan cukup rajin ia berusaha memenuhi keinginan ayahnya.

Hingga Wakdeuk mengenal dunia kickboxing. Untuk pertama kalinya Wandeuk merasa hidup. Walaupun badannya menjadi pegal dan memar dan gerakannya  masih seperti preman yang sedang berkelahi di jalanan Wandeuk tetap tidak menyerah.

Selain itu, ada juga Jeong Yoonha, gadis peraih peringkat nomor satu di sekolah yang sedang menghadapi skandal percintaan. Tiba-tiba saja Yoonha mengikuti Wandeuk kemana-mana hanya untuk mengeluarkan sesak di dadanya.

Dari buku ini kita melihat perkembangan kehidupan Wandeuk dari yang penuh kesunyian hingga akhirnya diisi dengan hal-hal yang disukai dan orang-orang yang mencintainya. Dan semua itu berkat kegigihan pak guru yang tidak henti-hentinya menarik Wandeuk dari dunia sepinya.

Sebagai buku Korea yang pertama saya baca, buku ini cukup memikat walaupun saya merasa sedikit kurang sreg dengan gaya bahasanya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul yang penuh dengan kata “enggak” atau juga “doang” yang jarang saya temukan di buku-buku lain.

Dan bahasa gaul ini tidak hanya digunakan dalam percakapan antar teman atau narasinya saja yang menggunakan sudut pandang orang pertama (Wandeuk), tetapi juga dalam percakapan para orang tua di buku ini. Hal ini yang menyebabkan saya meragukan bahasa asli yang digunakan adalah bahasa gaul.

Saya tidak tahu apakah di buku  aslinya menggunakan bahasa gaul atau penerjemah/penerbit yang sengaja menerjemahkan seperti ini karena buku ini dikategorikan sebagai bacaannya young adult. Sementara dari film-film dan komik yang saya baca, saya merasakan bahwa orang-orang Korea memiliki bahasa yang sopan dan sedikit kaku.

Mungkin penerbit takut apabila menggunakan bahasa baku buku ini akan kehilangan esens remajanya dan menjadi tidak bisa dinikmati. Sedangkan dalam pemikiran saya penggunaan bahasa baku belum tentu akan menghasilkan kata-kata yang kaku. Betul tidak?

Buku ini memenangkan penghargaan Changbi Prize untuk kategori Young Adult Fiction di tahun 2007 dan telah difilmkan dengan judul Punch. Menurut Wiki, sejak 2008 sampai sekarang buku ini telah terjual lebih dari 700 ribu kopi!