Showing posts with label terjemahan. Show all posts
Showing posts with label terjemahan. Show all posts

Monday, February 9, 2015

Bila Cinta Memanggil by Sharon Kendrick



Judul                     : Bila Cinta Memanggil
Pengarang           : Sharon Kendrick
Penerbit               : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun                   : 1999
ISBN                     : 979-605-948-7
Halaman              : 176
Rating                  : 4 of 5 stars


Sinopsis

Kata Max Ryder, setiap wanita yang melihatnya pasti jatuh cinta padanya. Karena itulah Shauna Wilde bertekad tidak akan melkukan kesalahan yang sama. Sebagai sekretaris Max, ia berusaha menjaga jarak. Tapi kemudian Max memindahkan kantornya dari London ke rumahnya di pedesaan, dan Shauna terpaksa ikut dengannya. Di tempat inilah ia baru menyadari, kenapa kaum wanita menganggap Max luar biasa menarik. Tapi sedapat mungkin ia berusaha mengingkari pereasaannya. Sementara itu, Max sendiri sudah jera berhubungan dengan wanita, makhluk yang selama ini membawa mimpi buruk baginya


Review

Shauna Wilde bergegas meninggalkan Portugal menuju London untuk menghadiri interview pekerjaan yang diincarnya. Perjalanan yang kurang lancar membuat Shauna terlambat datang. Dengan penampilan yang lusuh akibat perjalanan panjang dan masih menenteng kopernya Shauna bertekad menunggu sampai interview terakhir selesai dan berniat meminta kesempatan sekali lagi.

Sembari menunggu ia mengamati para kandidat lainnya. Penampilan mereka yang modis, cantik dan makeup lengkap membuat Shauna bertanya-tanya. Apa pekerjaan yang ditawarkan bukanlah sebagai asisten pribadi melainkan wanita penghibur? Shauna sempat ketakutan sendiri. Apalagi ketika salah satu peserta yang habis diinterview keluar dengan muka marah dan memaki-maki.

Tuesday, January 7, 2014

The Lottie Project (Buku Harian Lottie) by Jacqueline Wilson

Judul                     : The Lottie project (Buku Harian Lottie)
Pengarang           : Jacqueline Wilson
Penerbit               : Gramedia Pustaka Utama
Tahun                   : 2006
ISBN                     : 979-22-1789-4
Halaman              : 274
Rating                 : 4 of 5 stars


Charlotte Enright lebih dikenal dengan nama Charlie buat teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Tapi kemudian guru baru datang ke kelasnya. Miss Beckworth, guru baru yang nekad memanggilnya Charlotte, tidak sama dengan guru-guru baru lain yang pernah ditemui Charlie.

Biasanya para guru baru tersebut bersikap tegas pada minggu-minggu pertama mengajar mereka dan kemudian mulai melunak sehingga Charlie bisa bertingkah seenaknya. Tapi tidak begitu dengan Miss Beckworth. Mungkin itu ada hubungannya dengan umurnya yang lebih tua, pakaiannya yang resmi dan juga wajahnya yang jarang tersenyum

Bagi Miss Beckworth hukum yang berlaku di kelas adalah hukumnya. Jadi ketika Charlie mencoba-coba mengecoh Miss Beckworth agar menuruti kehendak Charlie, ujung-ujungnya selalu gagal.

Yang paling mengesalkan adalah ketika Miss Beckworth mengatur susunan tempat duduk sehingga Charlie harus bersebelahan dengan James Edwards, anak pintar kesayangan guru yang selalu membuatnya jengkel. Emang ada orang  yang selalu tunjuk tangan untuk menjawab pertanyaan guru?

Permasalahan Charlie disekolah ditambah pula dengan permasalahan di rumah. Jo, ibu Charlie, kehilangan pekerjaannya sebagai manajer penjualan karena perusahaan tempatnya bekerja tutup.  Jo akhirnya harus bekerja sebagai cleaning service di sebuah mall di pagi hari dan sebagai pengasuh anak di siang dan sore hari. Dan yang membuat Charlie semakin cemas, Jo mulai berdandan hanya untuk pergi ke rumah tempat ia mengasuh anak.

Ketika diberi tugas mengenai zaman Victoria, Charlie memutuskan membuat sebuah diari yang ditulis oleh Lottie, gadis pelayan yang hidup di zaman Victoria. Sebagian besar isi diari ini sebenarnya adalah hal-hal yang dilalui oleh Charlie sendiri.

Ini buku kedua Jacquelin Wilson yang saya baca. Suka banget baca buku ini karena Charlie anak yang pemberani, sedikit judes dan bandel tapi juga baik hati. Dan ia masih berada dimasa anak perempuan membenci anak laki-laki, walaupun sudah banyak teman-temannya yang melalui masa ini.

Saya sedikit bertanya-tanya mengenai kapasitas Jo sebagai orangtua Charlie. Memang Jo adalah orangtua tunggal yang melahirkan Charlie saat ia sendiri masih di bangku sekolah. Dan ia juga berjuang sendiri membesarkan Charlie karena kurangnya dukungan dari orangtua Jo, tapi sifat kanak-kanaknya lebih terasa daripada Charlie. Ada masa dimana Charlie malah bertindak seperti orangtua Jo.

Ada banyak pelajaran yang disampaikan penulis di  buku ini dan ditulis dengan kata-kata sederhana yang mudah dicerna oleh anak-anak kita. Belajar untuk meminta maaf dan memperhatikan kata-kata yang keluar dari mulut kita sehingga tidak menyakiti orang lain adalah salah satunya.

Wednesday, November 27, 2013

The Invention of Hugo Cabret by Brian Selznick


Judul                  : The Invention of Hugo Cabret
Pengarang           : Brian Selznik
Penerbit              : Mizan Fantasi
Tahun                 : 2012
ISBN                  : 978-979-433-681-6
Halaman             : 544
Rating                     : 4 of 5 stars

Hugo Cabret tinggal di apatemen pengawas jam di stasiun kereta bersama pamannya setelah ayahnya meninggal. Oleh pamannya ia diajarkan membersihkan dan merawat jam-jam yang ada di stasiun sehingga bisa berjalan dengan baik dan tepat waktu. Pamannya yang pemabuk itu lambat laun menyerahkan pekerjaan tersebut kepada Hugo hingga pada suatu hari ia malah tidak pulang sama sekali.

Hal itu membuat Hugo lega karena akhirnya ia bisa keluar dari stasiun dan pergi kemanapun ia suka. Saat meninggalkan stasiun ia lewat di sebuah museum yang pernah terbakar dan menemukan sebuah automaton yang teronggok di tumpukan puing-puing. Automaton  berbentuk boneka yang sedang duduk didepan sebuah meja inilah yang telah membunuh ayah Hugo.

Museum tersebut dulunya adalah tempat ayah Hugo bekerja. Saat berusaha memperbaiki automaton yang
membuat Hugo dan ayahnya ini kagum, terjadi kebakaran yang merenggut nyawa ayahnya. Hugo percaya bahwa apabila ia memperbaiki boneka ini, ia akan menemukan pesan yang ditinggalkan ayahnya untuknya.

Hugo kemudian kembali ke stasiun sambil membawa automaton tersebut dan mencoba memperbaikinya dengan mencuri suku cadang dari sebuah toko boneka.

Toko ini dijaga oleh seorang kakek yang pemarah, dan ketika suatu hari Hugo tertangkap mencuri si Kakek mengambil buku peninggalan ayah Hugo yang berisi skema untuk memperbaiki automaton. si Kakek kemudian melepaskan Hugo tetapi tetap menyimpan buku tersebut. Hugo kemudian mengikuti si kakek pulang dan kemudian bertemu dengan Isabelle, anak baptis si kakek yang selanjutnya membantu Hugo mendapatkan kembali buku tersebut.

Buku The Invention of Hugo Cabret sebenarnya sudah ingin saya baca sejak lama. Waktu itu beberapa orang teman di goodreads rame-rame mereview buku ini. kemudian filmnya keluar dan setelah saya tonton filmnya terasa biasa-biasa saja bagi saya. Malah terkesan sedikit dokumenter.

Tapi beberapa bulan yang lalu, saya menemui buku ini di rak diskon dengan harga hanya 25rb rupiah saja. Buku ini langsung saya peluk dan bawa ke kasir. Walaupun tidak begitu terkesan dengan filmnya, tapi saya sudah mendengar bahwa ilustrasi-ilustrasi yang ada dibuku ini sangat bagus dan saya penasaran untuk melihatnya.

Dan ternyata pendapat teman-teman yang sudah mereview buku ini memang benar. Ilustrasi yang disuguhkan begitu detail dan terasa nyata, walaupun hanya berupa sketsa dari pensil. Saya malah merasa efek gambar ini akan berkurang apabila dibuat berupa lukisan berwarna.

Ilustrasi-ilustrasi di buku ini bukanlah dibuat untuk sekadar menggambarkan situasi yang ada di teks seperti pada buku-buku bergambar yang biasa kita lihat. Ilustrasi-ilustrasi ini adalah jalan ceritanya sendiri. Kita dibawa berpindah-pindah dari teks ke ilustrasi sehingga kedua membentuk jalan cerita  yang signifikan dan berkesinambungan. Kita tidak bisa hanya membaca teksnya saja, atau hanya memandang ilustrasinya saja.

Buku ini terdiri atas dua bagian dimana bagian pertama berisi usaha-usaha Hugo untuk memperbaiki automatonnya dan awal dari persahabatannya dengan Isabelle. Sedangkan bagian kedua berisi usaha mereka untuk mengungkapkan tentang masa lalu Papa Georges (si kakek tua) dan mencari tahu hubungan Papa Georges dengan automaton milik Hugo.

Walaupun buku ini cukup tebal, sebenarnya hanya butuh waktu sebentar untuk membacanya. Karena ilustrasi yang adalah dibuku ini cukup banyak dan teks-teks yang ada tidak terlalu panjang, malah terkadang hanya ada satu paragraf saja dalam satu halamannya.

Sedangkan Papa Georges sendiri merupakan sosok nyata dan karyanya A Trip To The Moon yang digambar oleh automaton di buku ini merupakan salah satu karya terbaiknya. Kalau ini mengetahui lebih lanjut mengenai Georges Méliès, silakan klik (link ini)

Wednesday, September 11, 2013

Wandeuk by Kim Rye-ryeong


Judul                     : Wandeuk
Pengarang           : Kim Rye-ryeong
Penerbit               : Bentang Belia
Tahun                   : 2012
ISBN                     : 9786029397246
Halaman              : 254


Sebenarnya Wandeuk tidak suka berkelahi. Malah ia tidak ingin diperhatikan oleh banyak orang. Tapi dengan postur tubuh besar dan sikap diam yang sering dianggap mengancam, Wandeuk malah dilabeli sebagai preman di lingkungan dan juga di sekolahnya. Dan karena sifatnya yang juga tidak suka diejek, kaki dan tangannya pun akhirnya sering melayang menghajar orang-orang yang mengejeknya.

Tapi yang paling membuatnya jengkel itu adalah Pak Guru Ddongju, wali kelasnya. Hampir setiap hari pak guru memanggilnya untuk menjawab pertanyaan atau hanya untuk mengolok-oloknya. Belum lagi ia memasukkan Wandeuk kedalam daftar penerima bantuan untuk orang miskin dan kemudian meminta jatah berasnya. Yang paling parah adalah saat pak guru pindah rumah ke sebelah rumah Wandeuk. Tidak di rumah, tidak di sekolah pak guru berteriak-teriak memanggil namanya.

Tidak heran Wandeuk jadi sering mendatangi gereja hanya untuk berdoa agar Tuhan segera mencabut nyawa pak guru Ddongju.

Dan yang paling parah, pak guru meminta Wandeuk menemui ibunya, perempuan yang meninggalkan Wandeuk sejak ia masih bayi. Ibu? Sejak kapan Wandeuk punya ibu?

Ini pertamakalinya saya membaca buku hasil karya penulis Korea. Biasanya cuma nonton film atau baca komiknya saja. Dan dari buku ini saya juga bisa merasakan suasana yang biasanya saya dapatkan dari film dan komik tersebut. Jadi tidak susah bagi saya untuk membayangkan adegan-adegan yang berlangsung di buku ini.

Buku ini secara keseluruhan bercerita mengenai kehidupan sehari-hari Wandeuk. Tidak ada percintaan yang menguras air mata atau drama yang berlebihan. Hanya menceritakan hal-hal yang dilalui Wandeuk setiap harinya.

Diawal buku kita dapat merasakan kesendirian Wandeuk yang tidak memiliki teman di sekolah dan selalu pulang ke rumah yang kosong karena ayahnya yang sibuk bekerja sebagai penari kabaret jalanan. Ada sedikit rasa malu di hati Wandeuk atas pekerjaan ayahnya ini, apalagi dengan postur tubuh ayahnya yang pendek sehingga sering ditertawakan orang lain.

Hubungannya dengan ayahnya juga tidak terlalu dekat. Entah mendapat ide darimana ayah Wandeuk ingin Wandeuk menjadi seorang novelis sementara hasil tulisan Wandeuk sering menjadi ejekan pak guru Ddongju. Menjadi penulis bukanlah cita-cita Wandeuk, tapi dengan cukup rajin ia berusaha memenuhi keinginan ayahnya.

Hingga Wakdeuk mengenal dunia kickboxing. Untuk pertama kalinya Wandeuk merasa hidup. Walaupun badannya menjadi pegal dan memar dan gerakannya  masih seperti preman yang sedang berkelahi di jalanan Wandeuk tetap tidak menyerah.

Selain itu, ada juga Jeong Yoonha, gadis peraih peringkat nomor satu di sekolah yang sedang menghadapi skandal percintaan. Tiba-tiba saja Yoonha mengikuti Wandeuk kemana-mana hanya untuk mengeluarkan sesak di dadanya.

Dari buku ini kita melihat perkembangan kehidupan Wandeuk dari yang penuh kesunyian hingga akhirnya diisi dengan hal-hal yang disukai dan orang-orang yang mencintainya. Dan semua itu berkat kegigihan pak guru yang tidak henti-hentinya menarik Wandeuk dari dunia sepinya.

Sebagai buku Korea yang pertama saya baca, buku ini cukup memikat walaupun saya merasa sedikit kurang sreg dengan gaya bahasanya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa gaul yang penuh dengan kata “enggak” atau juga “doang” yang jarang saya temukan di buku-buku lain.

Dan bahasa gaul ini tidak hanya digunakan dalam percakapan antar teman atau narasinya saja yang menggunakan sudut pandang orang pertama (Wandeuk), tetapi juga dalam percakapan para orang tua di buku ini. Hal ini yang menyebabkan saya meragukan bahasa asli yang digunakan adalah bahasa gaul.

Saya tidak tahu apakah di buku  aslinya menggunakan bahasa gaul atau penerjemah/penerbit yang sengaja menerjemahkan seperti ini karena buku ini dikategorikan sebagai bacaannya young adult. Sementara dari film-film dan komik yang saya baca, saya merasakan bahwa orang-orang Korea memiliki bahasa yang sopan dan sedikit kaku.

Mungkin penerbit takut apabila menggunakan bahasa baku buku ini akan kehilangan esens remajanya dan menjadi tidak bisa dinikmati. Sedangkan dalam pemikiran saya penggunaan bahasa baku belum tentu akan menghasilkan kata-kata yang kaku. Betul tidak?

Buku ini memenangkan penghargaan Changbi Prize untuk kategori Young Adult Fiction di tahun 2007 dan telah difilmkan dengan judul Punch. Menurut Wiki, sejak 2008 sampai sekarang buku ini telah terjual lebih dari 700 ribu kopi!