Friday, November 1, 2013

Always With Me by Hyun Go Wun

Judul                     : Always With Me
Penulis                 : Hyun Go Wun
ISBN                     : 9786027742239
Penerbit               : Haru
Tahun                   : 2013
Halaman              : 428
Harga                   : Rp. 68.000,-

Rating  : 3,5 of 5 stars
 

Chae Song Hwa, anak kedua dari tiga bersaudara, tidaklah cantik. Walaupun lebih sering dianggap sebagai laki-laki, ia bangga dengan kekuatan dan keberaniannya. Ia memiliki karir yang bagus, teman baik yang menemaninya minum-minum dan orang-orang yang selalu meminta pertolongannya.

Yoon Sang Yup memiliki tekanan yang cukup berat. Sebagai cucu tertua ia diharapkan untuk segera menikah hanya karena gurauan serius kakeknya yang akan mewariskan perusahaan elektroniknya kepada cucu pertamanya yang memiliki anak. Dengan ibu yang berambisi mengusai perusahaan tersebut Yoon Sang Yup terus menerus disodori wanita-wanita cantik kiriman ibunya yang mendatangi rumah sakit tradisonal tempatnya bekerja.

Jadi, ketika Sang Yup bertemu dan dihajar Song Hwa yang sedang mabuk berat di kamar mandi sebuah klub dan dilanjutkan dengan pertemuan di kereta, Sang Yup menganggap itu adalah sebuah takdir. Wanita itu sampai tertidur dibahunya dan meninggalkan jejak air liur di setelan Armani Sang Yup. Kalau itu bukan takdir apalagi namanya?
Maka ketika takdir kembali campur tangan dan mengirim Song Hwa ke rumah sakit tempatnya bekerja Sang Yup langsung mengambil keputusan. Ia meminta Song Hwa menjadi pacarnya.

Hal itu tentu saja mengejutkan Song Hwa. Bagaimana dokter  yang kasar dan tidak sopan itu berani-beraninya meminta ia menjadi pacarnya? Mereka kan juga baru kenal...

Tapi Sang Yup bukanlah lelaki yang mudah putus asa. Dengan gigih ia mengejar dan mendesak Song Hwa. Dan Song Hwa yang tidak percaya takdir ini kemudian menyerah. Dengan permainan gunting-batu-kertas ia menentukan pilihannya. Kalau Sang Yup menang, ia akan menjadi pacar Sang Yup.

Novel ini merupakan percampuran antara beberapa kisah yang telah kita kenal. Cinderella, Beauty and The Beast, Bridget Jones Diary, Romeo & Juliet. Dan itu dipastikan oleh penulis dengan menceritakan ulang kisah-kisah itu tetapi dari sudut pandang yang berbeda.

Cinderella kehilangan sebelah sepatu kacanya? Bukankah pintar sekali Cinderella itu? Ia sengaja memilih sepatu yang sedikit kebesaran, kalau tidak begitu bagaimana sepatu tersebut bisa terlepas dari kakinya?

Dan The Beast yang tidak malu akan keburuk rupaannya, toh  ia tetap seorang pangeran.

Kisah-kisah ini membatasi tahap-tahap perkembangan hubungan antara Chae Song Hwa dan Yoon Sang Yup. Air liurnya yang tumpah ke bahu Sang Yup adalah sepatu kacanya Cinderella. Si buruk rupa yang tidak minder adalah Song Hwa yang tetap percaya diri walaupun tumbuh besar diantara kedua saudaranya yang cantik Park Yang Ji dan Chae Jang Mi. Diary si Bridget (yang jujur saja ga saya sukai baik buku maupun filmnya) melambangkan kebahagian Song Hwa yang akhirnya punya pacar. Dan kisah ini berpuncak dalam tragedi ala Romeo & Juliet.

Menurut saya kreatif sekali penulis mengambil kisah-kisah ini untuk melambangkan kemajuan-kemajuan dalam novelnya. Setiap menemukan kisah-kisah penanda ini saya jadi berpikir ‘oke, ini kisah si buruk rupa yang bangga dengan keburuk rupaannya. Dan jelas-jelas Song Hwa adalah karakter yang yang dimaksudkan. Apa yang akan diberikan penulis kepada saya di babak ini?'
 “Aku punya pekerjaan dan meskipun aku tidak cantik sekali, setidaknya aku tidak pernah malu dengan wajahku sendiri.” Tatapan Song Hwa benar-benar terlihat serius, seolah ia sedang mengakui kesalahannya. Dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia memang baru menyadari bahwa sebenarnya ia memiliki banyak hal.
Song Hwa yang polos seperti sebuah buku yang terbuka bagi Sang Yup. Setiap kegelisahan yang keraguan Song Hwa bisa terbaca jelas olehnya. Dan sifat Sang Yup yang selalu membereskan persoalan sebelum menjadi berlarut-larut merupakan salah satu hal yang mendukung keberhasilan hubungan Sang Yup dan Song Hwa.

Pada beberapa bagian, kecurigaan Song Hwa tentang alasan Sang Yup berpacaran dengannya membuat saya sedikit bosan. Karena hal ini cukup berulang-ulang terjadi. Dan ternyata ini memang menjadi penyesalan Song Hwa kemudian. Mengapa ia menghabiskan waktu mempertanyakan motif Sang Yup bukannya berusaha dengan sungguh-sungguh  memperdalam hubungan mereka?

Tidak ada emosi yang meledak-ledak dibuku ini, ataupun adegan yang bisa membuat kita mengucurkan air mata. Bahkan ketika cerita mulai memasuki adegan ala Romeo & Juliet. Suasana di novel ini lumayan tenang, hanya ada sedikit riak tapi tidak membosankan. Dan hal ini penting menurut saya karena novel ini  lumayan tebal.

Saya menyukai semua karakter yang ada dibuku ini (kecuali orang tua Sang Yup tentunya). Setiap orang memiliki peranan yang mendukung karakter utamanya, bahkan Jang Mi  yang berusaha merebut pacar kakaknya.

Selain hubungan antara Song Hwa dan Sang Yup, yang paling saya sukai dibukui ini adalah hubungan persaudaraan antara Yang Ji, Song Hwa dan Jang Mi. Kedua saudaranya ini sangat cantik dan sesuai sekali dengan nama mereka yang berarti bunga mawar. Sedangkan nama Song Hwa sendiri juga merupakan nama bunga tetapi bukanlah  termasuk kedalam keluarga bunga mawar.

Yang Ji, si kakak tertua yang kembali kerumah setelah bercerai karena suami berselingkuh adalah perempuan yang pintar dan cepat menangkap masalah. Sifatnya yang dingin dan tegas menjadi penyeimbang bagi kedua adiknya.

Jang Mi si bungsu, artis cantik yang merasa paling dicintai se-Korea Selatan, bersifat manja, egois dan sangat mementingkan diri sendiri. Ia lebih suka berpikiran simpel, sehingga seringkali jengkel dengan Yang Ji yang sering memperumit jawaban sebuah persoalan.

Hubungan ketiga orang ini juga ikut berkembang dalam buku ini. Dari awalnya sedikit acuh tak acuh menjadi lebih dekat dan akrab.

Sebenarnya hubungan ketiga bersaudara ini mengingatkan saya akan manga For The Rose karya Akemi Yoshimura sensei. Di manga ini dikisahkan tentang Yuri yang setelah neneknya meninggal baru mengetahui bahwa ibunya adalah seorang artis ternama dan ia memiliki 3 orang saudara yang semuanya berlainan ayah. Ketiga saudaranya ini sangat cantik dan tampan.

Ada Fuyo, si kakak pertama yang pemalas tapi sebenarnya pintar. Ia juga kembali pulang kerumah setelah bercerai dari suaminya yang berselingkuh dan mengidap Oedipus complex. Walaupun pemalas dan memiliki prinsip bahwa orang lain yang harus melakukan sesuatu baginya, Fuyo adalah orang yang paling tajam dalam menghadapi masalah. Menurut saya dibuku Always With You ini Fuyo adalah Yang Ji.

Ada Sumire, kakak kedua yang keturunan bule. Cowok ganteng ini menutup hatinya dari cinta sejak ditinggal mati kekasihnya. (pacar Sang Yup sebelum Song Hwa sepertinya juga mati kalau saya tidak salah ingat).

Ada Aoi, si bungsu yang sangat tampan, narsis dan jutek. Ia ditaksir oleh banyak cewek dan cowok.

Lalu si tokoh utama, Yuri, cewek gendut dan jerawatan dengan kepercayaan diri yang sangat rendah.

Apakah mungkin penulis terinspirasi oleh tokoh-tokoh ini? Jalan cerita jelas beda, karena For The Rose-nya Akemi sensei menyentuh banyak persoalan, bukan hanya percintaan.

Dan sebelum menutup review ini, adalah beberapa kejanggalan yang saya temukan dibuku ini.  Yang sempat saya catat antara lain :
  1. Hal 246 : Wanita itu bergerak dengan lamban dan anggun layaknya seorangkucing mahal... (Seorang? Seriously?!?)
  2. Hal 277 : Jari tangan yang gemuk dan imut dokter itu... (apa ga lebih cocok menggunakan kata pendek?)
  3. Hal 327 : Romeo dari keluarga Montague adalah satu lelaki yang terkenal... (satu atau seorang?)
  4. Hal 365 : Mereka harus menaiki 419 buah anak tangga... (menurut saya lebih efektif kata ‘buah’ dihilangkan)
  5. Sang Yup sering sekali terkikik di buku ini. Apa tidak bisa digantikan menggunakan kata lain seperti 'terkekeh' misalnya? Aneh aja membaca ada cowok yang terkikik. Girlie banget menurut saya.
Secara keseluruhan saya berikan 3,5 bintang untuk buku ini.

Saya sangat menunggu-nunggu untuk bisa membaca kisah Yang Ji dan Jang Mi. Dan saya tidak bisa mengetahui apakah buku-buku mereka sudah diterbitkan atau belum karena di goodreads saya hanya menemukan buku-buku Hyun Go Wun edisi bahasa Indonesia. Ketemu link novelnya tapi pake bahasa Korea :(

Apakah tidak ada rakyat Korea Selatan yang menjadi anggota Goodreads dan menginput data buku-buku yang sudah diterbitkan Hyun Go Wun?

Aiihh.. jadi penasaran ini..

6 comments:

  1. Kmaren liat buku ini di top pertamanya bukabuku. eeeh cepet bangeet bikin reviewnya hehe :p
    Jadi penasaran sama bukunya.
    Salam kenal, btw :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga Hanifah :)

      aku udah terima bukunya 3 hari yang lalu sih dan langsung baca. abis baca langsung bikin review, kalau ditunda-tunda ntar malasnya timbul. ujung2nya malah ga jadi bikin reviewnya. hehehehe...

      Delete
  2. Halo, Kak Ira! Ini pertama kalinya ke blog ini sepertinya, hehe.
    Baru selesai baca buku ini juga beberapa hari lalu, secara keseluruhan suka, tp entah kenapa lebih suka buku sebelumnya yg '4 Ways to Get a Wife'

    Dan iya, setuju banget tentang poin-poin diatas. Kalo diperhatiin buku terjemahan Penerbit Haru udah makin baik dari segi terjemahan maupun fisik tampilan bukunya, tapi seringkali masih ada beberapa pemilihan kata/diksi yg agak-agak kurang enak ya, hehe. Tapi dibanding buku terjemahan pertamanya, yg sekarang ini udah progress banget :)

    -Tirta @ I Prefer Reading

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo juga Tirta, makasih sudah berkunjung :)
      aku emang denger kalo 4 Ways to Get A wife itu lebih bagus, sepertinya ceritanya lucu. mesti berburu nih, atau apa ada yang mau ngadoin? #kode
      hehehe...

      Delete
  3. blog bagus dari pembaca dan reviewer yg cermat..salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih :)
      salam kenal juga...

      Delete